Rabu, 07 Mei 2014

Apa deh banget


heii kamu.. iyaa kamu... *gara2dodit* #lempar dodit pake tissue
Kenape?
Nyesel?
Dongkol?
Mau muntah?
Yaa silahkan sajaaa…
Inilah gue yang sesungguhnya… hahahaha…
!@%!@Plakk!! PLAKK!! Pletakkk! %$%@@! Dzigdzig. @$# pow pow.. Pzzztttt..
-____-

Maybe,, itu bayangan saya yang paling lebay untuk pasangan yang baru bersatu, (tau kan maksudnya? Gak perlu di perjelas ya.. hihihi..). Hmm.. itu mungkin terjadi, tapi kayaknya gak akan selebay itu siih, haha..

Yaa, secara ya, bersatu itu berarti mau gak mau, harus mau menerima apapun. APAPUN, baik buruknya, lemah kuatnya, masa lalu dan masa depannya, sehat sakitnya, dan segambreng hal yang ada pada dirinya.

Yang namanya menggenap, maka konsekuensinya adalah harus mau menerima sepaket dari kata ‘pasangan’.  Nah, yang namanya manusia, gak mungkin kan ya kalau sempurna. 
*kecuali andra and d’ backbone*

Secara otomatis, kau akan menemukan sejumlah manusia yang sangat beragam dalam konteks ketidaksempurnaan. Maka, gak perlu gusar, gak usah kaget dan jangan galau jika menemukan sosok yang super duper cerdas, ternyata ada secuil kedodolan, atau saat menemukan sosok wanita yang super cuantik, ternyata agak dong-dong,  atau ternyata dalam ketampanan ada kemelambayan (?), atau apa aja lah...

Ya begitulah konteks ketidaksempurnaan,
jadi membayangkan, kalau tetiba si tampan menemukan si cantik dalam kondisi “hobi kentut” atau si cantik menemukan si tampan dalam kondisi “hobi ngorok”, “hobi ngupil”, “hobi ngiler”, dan seabrek hobi-hobi unik lainnya *hobi????

Lalu, bisa saja do'i adalah tipikal orang yang sangat senang sekali dengan doraemon, super saia, sailormoon, maruko-chan.  Bisa juga, dalam suatu masa, do'i pernah mengalami syndrome malas mandi. Dan banyak deh, kejadian-kejadian di luar dari kebiasaan. (?). Yang sangat bisa membuatmu ilang feeling, panas dingin, hidung mampet, dan pengin muntah.,

Kalau do'i beruntung, do'i hanya akan menemukan anda berada pada posisi ngedumel sendiri, hehe.. *kayaknya sih ini alay*

Ya itu resiko yang harus di tanggung. Namanya juga menggenap. Namanya juga  bersatu, namanya juga 2 manusia dengan 2 isi kepala, budaya, sifat, watak dan kebiasaan masing-masing.  Jadi, Se il-feel - il-feel nya, gak mungkin kan ya, tiba2 berpisah hanya karena hal-hal sepele seperti itu. Sebab, masing-masing akan saling melengkapi dengan kekurangan dan kelebihannya.
*bijak

Agak absurd juga saya memikirkan hal yang aneh ini.. tapi ini penting kawan. 
Percayalah.. ini jelas akan kau temui dalam dunia nyata. Dari sini, saya jadi menemukan makna.. bahwa bersatu, berarti menarik kita pada pemahaman tentang ‘penerimaan’ yang utuh. PENERIMAAN YANG UTUH.

Apapun tentangnya, bagaimanapun dia, seperti apapun dia, dia tetap pelengkap hidup terbaik yang Allah berikan.

ciee cieee… plok plok plok *tepuk tangan*

Kamis, 17 April 2014

Sajak Keterasingan

Seperti berada di ladang baru,
Menyiangi dan memanen pohon yang dahulu menyemainya pun tidak,
Kau tahu?
Dia seperti entitas baru dalam kehidupanku,
Lalu, Mmenyusup masuk pada pola ritme nada dan lagu,
menggubah sebagian.. 
ah tidak.. bahkan hampir seluruh isi yang ku bangun..
Aaarrrgggh..
Harus bagaimana?
Menyukainya adalah seperti memakan buah maja.
Melangkah bersamanya, adalah seperti berjalan bersama bara api,
Diam? Tidak. 
Ini bukan hanya soal memberi makan anak ayam.
Mungkin,
ya.. mungkin..
aku hanya belum menikmati apa yang menjadi caraku dalam menaati Nya,

*Kamis, 17 april 2014*

Selasa, 08 April 2014

Nanti.. bukan jika..



Nantinya, kita tak perlu membaca buku yang sama.
Aku memahami cara berpikirmu, bukan ia yang menulis buku di hadapanmu itu.
Nantinya, kita tak perlu menikmati jenis masakan yang sama.
Bukankah di dunia ini memang begitu banyak bumbu?
Nantinya, kita tak perlu jatuh cinta pada langit yang sama.
Pagi atau senja, sama-sama cantiknya.
Nantinya, kita pun tak perlu jatuh cinta pada Bumi yang sama.
Timur atau barat, sama-sama dalam kuasa-Nya.

Nantinya, kita tak perlu sibuk dengan hobi yang sama.
Kau tahu, bahagia itu memang timbul dengan banyak cara.
Nantinya, kita tak perlu menikmati kopi dengan cara yang sama.
Kopimu tawar tanpa gula. Aku, sebaliknya.
Bahkan, tak perlu suka keduanya.
Bisa jadi, kau justru membencinya. Tidak masalah.
Nantinya, kita pun tak perlu selalu satu suara.
Ada kalanya suarakulah yang kau tinggikan, meski kecenderunganku pada perasaan, bukan rasionalitas.

Nantinya, kita memang harus siap dengan segala pertidaksamaan.
Sebab nantinya, hidup yang kita jalani seperti Aljabar, tidak melulu tentang persamaan.
Nantinya, kita memang tak perlu memiliki banyak kesamaan.
Sebab apa jadinya pelangi jika ia berwarna merah semua?
Dan nantinya, kita hanya butuhkan ini yang sama.
Ini, yang mereka sebut cinta.
Cinta kita adalah cinta karena-Nya.
Kita masih satu frekuensi, kan?
Sefrekuensi menuju Surga-Nya
Jika frekuensi kita tak senada,
mungkin ini saatnya berbenah.

***
reblogg from lanina lathifa..
iyaa.. nantinya.. tak melulu harus sama..
kau utara, aku selatan..
namun, cinta pada Nya lah yang lalu menyatukan utara dan selatan.

*haah,, refreshing..
its okey.. *seruput teh hangat*

Pelangi sejuta warna

Kali ini, Pelangi menjadi candu.
Seperti hal nya pungguk,
namun tidak sedang merindukan purnama,
hanya saja..
pungguk senantiasa menanti hadirnya pelangi,
di sela-sela rintik hujan yang mulai reda.

kau tau?
padahal pelangi tak selalu hadir setalah hujan,,
biarlah..
untuk kali ini,
biar asa yang membuatnya hidup..
bahwa..
suatu saat.. ia kan temui pelangi di antara celah dedaunan..
pelangi dengan sejuta warna.

 

Kamis, 06 Maret 2014

Jawah



“Sepanjang jalan di temani hujan. Sayangnya.. aku selalu tak bisa menangkap partikel hujan. Rintiknya selalu pecah saat ku gapai.”

“langit yang dibersamai hujan itu cantik. Lalu rintik yang dibersamai kilat lampu juga cantik. Ah, saya selalu membayangkan bisa melihatnya dengan mode ‘slow motion’.”

*yey.. hal yang paling gak penting adalah siang kemarin. Tepatnya hari rabu siang. Saat perjalanan pulang dari kunjungan ke lapangan, mata saya tetiba begitu tertarik pada langit. Kala itu langit mendung. Tapi saya jatuh hati sama gumpalan awan nya. Dan serta merta saya berhenti, lalu dengan tidak pentingnya, saya memotret awan-awan itu. Di pinggir jalan, sendirian, senyam senyum sendiri, lalu mata saya mungkin akan terlihat berbinar-binar, seperti anak kecil yang dapat mainan baru. Begitulah mungkin gambaran saya kala itu.  -__- #gakpentingpakebanget

Lumayan lama saya berhenti. Liat langit, liat gumpalan awan kelabu itu berarak ke suatu arah. Indah. Padahal saya tahu, tidak lama lagi hujan pasti turun.
Dan benar saja, beberapa saat setelah saya kembali melanjutkan perjalanan, tetiba hujan menyirami kota semarang. Kembali saya melanjutkan aksi ketidakjelasan ini. Selang setelah memakai jas hujan, ada hasrat yang muncul dalam benak saya, yaitu menangkan partikel hujan. #setress nih mila.. %^&@#$

Sepanjang jalan pulang, alhasil tangan kiri saya gak mau diem. Menengadah ke atas seolah olah berusaha menangkap tetes-tetes hujan. Huwaaaaah.. seruuu ternyata pemirsah!! *silahkan, boleh di coba kalo kurang kerjaan* wkwkwk

Hujan saat itu deras. Partikelnya besar-besar. Terasa sekali menampar-nampar tangan saya. Sakit. Tapi menyenangkan. Sebab, saya suka dengan romantisme hujan, suka dengan caranya membuat kuyup, suka dengan caranya menampar-nampar wajah, suka dengan dingin yang dihembuskan, dan menggigil yang dihasilkan.
Sekali lagi. Ini menyenangkan.

*itu puisi saya untuk hujan kala itu*
Bagus kan? #pamer

Rabu, 05 Maret 2014

Cumulus Mundus



Dalam benak saya pernah terbersit :
“Bapak-bapak  itu, yang sudah menikah, yang punya anak sekian.. Bisa bertahan bekerja disini”. Lalu kemudian kalimat yang lain menyusul, “Subhanallah.. Saluut.”

Mereka dengan serta merta akan saya golongkan pada kelompok orang-orang keuren. Gak Cuma sekedar “keren” aja. Tapi KEUREN.
Mereka tidak tahu, kalau diam-diam saya menaruh 20 jempol untuk mereka. (4 jempol punya saya, dan 16 pinjam jempol tetangga).

Well. Paradigma ini yang sebetulnya harus diperbaiki. Bekerja disini bukan mencari rizki. Sebab, jika itu yang di cari, saya jamin, gak berselang lama setelah “mencicipi” pekerjaan ini, mereka akan merasakan gejala mual-mual, pusing, bersin, demam, gatal, keluar ingus, dan pada akhirnya ada perasaan yang sungguh tidak nyaman yang mengganggu sisi psikologis mereka *lebay*. Yang akhirnya semua itu bermanifestasi pada gejala kronis “pengin keluar”.
Yaah.. wajarkah itu?
Emm.. maybe.

Makanya, saya lebih senang menyebut bekerja disini adalah bentuk pengabdian. Pelayanan sosial. Jelas, orang-orang yang ada disini harus teruji dulu tingkat jiwa sosialnya. Karena ini yang akan menguatkan dan menopang niat agar tetap bertahan meski badai selalu berdatangan.

Nah, ini mungkin yang menjadi motivasi bapak-bapak di atas. #huznudzan

Lah kalo saya?
Haah.. harus belajar lagi tentang ketulusan.